Harapan Terakhir yang Terkabul

So, this is my old experience and I’ve written this several years ago.

Hari ini, tepat pada 1 November 2014. Jam menunjukkan pukul 05.30. Aku sudah rapi mengenakan seragam batik-biru yang berbeda dengan seragam siswa lain. Tau alasannya? Ya, aku akan mengikuti lomba Olimpiade Sains Nasional dengan mata pelajaran IPS. Mata pelajaran yang awalnya aku sangat membencinya kini mengantarkan aku menuju kehidupan kompetisi ilmu pengetahuan yang ternyata sangat menyenangkan. Aku jadi ingat, saat pertama kali ditunjuk untuk menjadi Tim OSN IPS di sekolah. Benar-benar menjengkelkan. Nilai IPSku saja tidak se-sempurna anak olimpiade, bagaimana bisa ditunjuk menjadi Tim OSN IPS? Awalnya aku kira ini sebuah sindiran atau hal semacam itu. Tapi, sungguh sangat salah sekali. Aku memang dididik materi olimpiade dengan 3 guru IPS sebagai pembimbing. WOW. Apakah ini suatu keberuntungan, atau jalan yang Allah beri untuk menyalurkan bakat terpendamku? Tapi aku tidak benar-benar ahli dalam pelajaran IPS. Aku harap kali ini aku bisa maksimal. Setelah beberapa bulan berlalu, ternyata IPS tidak terlalu buruk. Aku telah mengikuti lomba OSN tingkat Kab/Kota dan berhasil lolos ke tingkat Provinsi. Namun kesempatan menuju tingkat Nasional sungguh sangat kecil. Yah, aku pasrah dengan keadaan. <Anyway, mau tau kisah petualanganku sewaktu OSN di tingkat Kab/Kota dan Provinsi? Tunggu postingan berikutnya :D> Kini aku berada di kelas 9, dengan tuntutan nilai UN sempurna, 40,00. Amiiinn. Aku mulai membereskan buku-buku dan materi-materi OSN. Ya, aku akan mengakhiri segala kegiatan yang berhubungan dengan OSN IPS. Tapi ke-3 guru pembimbingku berkata lain. Aku, Dennia, dan Anne terpilih untuk mengikuti OSN IPS yang diselenggarakan di UM. Aku hanya tak habis pikir. Aku dan temanku yang lain sudah menjalani ‘tingkatan’ akhir dari SMP yang seharusnya hanya berfokus pada materi pelajaran tertentu, masih diberi amanah untuk mengikuti OSN. Beliau berkata, bahwa kami akan mengikuti lomba bersama adek kelas Tim OSN IPS yang masih belum berpengalaman mengikuti kompetisi OSN. Untungnya kali ini, OSN diselenggarakan secara tim yang terdiri dari 3 anggota. Tapi walaupun bersama-sama, aku dan yang lain masih merasa sangat terbebani dengan lomba ini.

‘Aku udah lupa materi OSN, belajar dari awal lagi kan gak lucu,’ gumamku dalam hati.Tapi mau bagaimana lagi? Setelah kupikir-pikir, ini adalah lomba terakhirku, kesempatan terakhirku, harapan terakhirku, untuk memperkenalkan sekolahku di dunia pendidikan. Aku hanya ingin membuktikan, perjuanganku mengikuti pelatihan OSN IPS tidak sia-sia dan berbuah manis di akhir. Beberapa hari sebelum hari ‘H’, aku, dan kedua temanku membiasakan diri lagi mengikuti pelatihan OSN IPS. Jika aku boleh mengatakan yang sejujurnya, sungguh malas rasanya mempelajari materi sebanyak itu

‘Tapi Shin, please kali ini aja aku harap kamu bisa maksimal. Kali ini aja, kamu bisa tunjukin kalau kamu bisa’

Ya, hanya sebuah percakapan ringan antara aku dan ‘aku-yang-lain’. Aku harap, ‘aku-yang-lain’ bisa memberitahuku bagaimana cara mengatasi masalah ini.

H-1 semakin membuatku tak bersemangat membuka materi. Sungguh, aku tidak yakin bisa melanjutkan ini. Tapi saat kulihat paras kedua temanku dan guru pembimbingku, rasanya aku tak tega bila tak berjuang sekeras mereka. Segala ucapan motivasi mulai terngiang di kepalaku. Semangatku mulai membara. Sepulang sekolah, aku berencana untuk istirahat sebentar dan mulai membaca materi. Untuk mengurangi beban materi yang harus dihafalkan, aku dan temanku membagi tugas. Aku ekonomi, Dennia sejarah, dan Anne Geografi. Aku harap pembagian ini bisa efektif.

Kembali kutengok jam tanganku, menunjukkan pukul 7.15 WIB. Kini aku sudah duduk terjepit di kursi belakang mobil Pak Didi. Di sebelah kananku ada adek kelas bernama Drajat/Drajad (idk how to write) dan sebelah kiriku ada jendela yang mengalirkan angin sepoi-sepoi yang tetap tidak bisa menghilangkan rasa mualku. Aku bukan tipe orang ‘mabukan’, tapi entahlah, setiap akan berangkat menuju lokasi lomba, kepalaku selalu pusing dan perutku rasanya sedang melancarkan perang dunia ke-3.

‘Tidak, jangan sekarang. Tapi, ah sudahlah aku hanya akan mempertahankan pandanganku lurus menuju jalan raya untuk mengurangi mualku ini’

Beberapa menit kemudian (it’s almost 1 hour and it’s like, omg please take me go home) aku telah sampai di salah satu gedung Fakultas Ilmu Sosial di Universitas Negeri Malang. Aku bergegas menuju aula tempat pembukaan lomba dan BANG?!!

‘Itu peserta lomba apa antrian sembako? Subhanallah, sainganku banyak banget’

Ya, antara optimis dan pasrah. Di sana aku juga bertemu dengan temanku bernama Anjani. Cerita singkat, aku dan Anjani bertemu di OSN IPS tingkat provinsi. Dia bersekolah di SMPN 2 Singosari.

Pembukaan singkat lalu dilanjut dengan pembagian ruangan test. Timku berada di ruang 01 dengan nomor urut peserta 05. Kami semua lalu bergegas menuruni tangga menuju ruang test masing-masing. Tidak sedikit yang mulai membaca dan mengingat-ingat materi IPS. Aku memutuskan untuk membaca juga, yah setidaknya aku masih terlihat serius mengikuti lomba, dan aku ingin memberikan pencapaian terbaik dan terakhirku.

Waktu test dimulai. Soal dan lembar jawaban telah dibagikan. Soal terdiri dari 100 butir, dengan komposisi sub-bab yang pas, menurutku. Soal yang diberikan tidak terlalu sulit jika dibandingkan dengan soal OSN IPS yang diadakan pemerintah. Kami mulai membagi-bagi lembar kertas sesuai bidang yang dipelajari. Tak sedikit soal yang kami diskusikan bersama. Kali ini, semangatku mulai bangkit. Ya, aku optimis bisa lolos ke final.

Seusai mengerjakan, aku dan kedua temanku mengambil jatah konsumsi yang telah disediakan. Di seberang gedung, guru pembimbingku dan tim adek kelas sudah menanti kedatangan kami. Aku dan kedua temanku memutuskan untuk tidak membahas soal, dan memutuskan untuk ikhlas dengan apa yang sudah kami kerjakan. Adzan Dhuhur mulai berkumandang. Aku dan Dennia pergi menuju musholla untuk menunaikan sholat. Kami memohon kuasa Allah, untuk membuat kami siap dengan hasil yang akan diumumkan.

‘Ya Allah, kami siap menang dan siap kalah. Berikan keputusan yang terbaik untuk kerja keras kami. Terima kasih atas segala kehendakMu, sehingga membuat kami berada dalam kompetisi ini, membuat kami menambah pengalaman, guru yang paling baik dalam hidup. Jadikan kami hambaMu yang tak lupa untuk selalu bersyukur dan berusaha, Amin’

Hati yang awalnya gundah, menjadi sedikit lebih tenang. Namun tak lama setelah itu, terdengar pengumuman kepada seluruh peserta untuk memasuki aula karena hasil nilai akan segera diumumkan. Keputusan akankah meraih peringkat 5 besar atau tidak. Semakin lama, jantungku berdetak semakin cepat. Aku berusaha membuat guyonan ‘aneh’ untuk menghibur diriku sendiri, tapi tak terlalu berhasil. Di samping itu, Anne mengeluh perutnya sakit. Tapi dia yakin, perutnya sakit adalah pertanda bahwa kami akan menang. AMIN. Aku harap itu benar. Atau jangan-jangan hanya sekedar ‘panggilan alam’?

‘Peserta pertama yang lolos ke 5 besar, adalah… Peserta dengan nomor urut 39, SMPN 3 Malang!!”

WOW KEREN! Mereka duduk tepat di depanku. Begitu bahagianya mereka. Tunggu, aku lupa nomor urut pesertaku. Oh, nomor 05. Aku harap setelah ini mereka memanggil nomor urut 05.

‘Peserta kedua yang lolos ke  5 besar adalah, peserta dengan nomor urut LIMA. SMPN 1 Singosari!!”

Ha?

Lima?

05?

Itu nomor urut kami…

Kami lolos?

Seketika LCD menampilkan 5 kelompok yang lolos. Terlihat jelas di sana dicantumkan kelompok kami.

APA?? LOLOS KE LIMA BESAR? BENERAN???

‘ALHAMDULILLAH… YEAAYYYYYYY”

Kurang lebih itu kalimat yang bisa kami ucapkan. Tapi kami masih speechless. Rasa lega mulai ada, namun detak jantungku berdetak lebih kencang dari sebelumnya, mengingat kami akan maju ke babak cerdas cermat. Ini adalah pengalaman pertamaku mengikuti tahap cerdas cermat selama di SMP. Aku harap aku bisa melakukan yang terbaik. Bukan hanya aku, tapi kami bertiga.

 

I’m so sorry I can’t tell till the end of the story and I just can’t continue it bcs it will become different if ‘the now-me’ suddenly appear in this kind of ‘the old-me’ story. Pokoknya pada akhirnya, kami berhasil memenangkan juara 3 lomba OSN IPS se-Malang Raya. Alhamdulillah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s